Telah kita ketahui bersama bahwa shalat berjama’ah
hukumnya wajib ‘ain bagi kaum lelaki. Namun apakah shalat berjama’ah wajib
dilaksanakan di masjid? Ataukah sudah gugur kewajiban shalat jama’ah walaupun
tidak dilakukan dimasjid?
Dalil Wajibnya Shalat
Berjamaah di Masjid
Yang rajih, shalat berjama’ah wajib dilaksanakan di
masjid kecuali jika ada udzur untuk tidak melasanakannya di masjid. Wajbnya
shalat jama’ah di masjid ditunjukkan oleh banyak dalil dari Al Qur’an dan As
Sunnah. Diantaranya:
Dalil 1
Allah Ta’ala berfirman:
فِي
بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ
فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ
عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ
يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah
diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu
pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan
tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan
sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang
(di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (QS. An Nur: 36 – 37).
Dalil 2
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan
shalat” (QS. At Taubah: 18).
Syaikh Shalih Al Fauzan ketika menyebut dua ayat di
atas beliau mengatakan, “Dalam dua ayat yang mulia ini terdapat penekanan untuk
ibadah di masjid dan memakmurkannya. Dan Allah menjanjikan orang yang
melakukannya dengan pahala besar. Maka terdapat celaan bagi orang yang tidak
menghadiri masjid untuk shalat di sana” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 103).
Baca Juga: Mewaspadai Bahaya Khalwat
Dalil 3
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لقد
هممت أن آمر بالصلاة فتقام ثم آمر رجلا فيصلي بالناس ثم أنطلق معي برجال معهم حزم
من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار
“Sungguh aku benar-benar berniat untuk memerintahkan
orang-orang shalat di masjid, kemudian memerintahkan seseorang untuk menjadi
imam, lalu aku bersama beberapa orang pergi membawa kayu bakar menuju
rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat jama’ah lalu aku bakar rumahnya”
(HR. Bukhari no. 7224, Muslim no. 651).
Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
mengancam orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Maka
menunjukkan bahwa shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid. Telah kita
sampaikan hadits ini dan alasan mengapa beliau tidak melakukannya.
Dalil 4
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
مَن
سَمِعَ النِّداءَ فلَم يأتِ فلا صَلاةَ لَه إلَّا مِن عُذرٍ
“Barangsiapa yang mendengar adzan, namun tidak
mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali ada udzur” (HR. Abu
Daud no.551, Ibnu Majah no.793, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul
Maram [114]).
Baca Juga: Faedah Seputar Basmalah
Dalil 5
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,
أن رجلاً
أعمى قال يا رسول الله: ليس لي قائد يقودني إلى المسجد، فهل لي من رخصة أن أصلي في
بيتي، فقال له صلى الله عليه وسلم: هل تسمع النداء بالصلاة؟ قال: نعم، قال: فأجب
“Ada seorang buta menemui Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang
yang akan menuntunku ke masjid. Apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di
rumah?“. Maka Rasulullah pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengar
panggilan shalat (azan)?”. Laki-laki itu menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Kalau
begitu penuhilah panggilan tersebut (hadiri shalat berjamaah)” (HR. Muslim
no. 653).
Dalil 6
Bahkan di zaman Nabi, orang yang tidak shalat jama’ah
di masjid, sudah kentara sebagai orang munafik. Dari Abdullah bin Mas’ud
radhiallahu’anhu, ia berkata:
من سره
أن يلقى الله غداً مسلماً فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن، فإن الله شرع
لنبيكم سنن الهدى وإنهن من سنن الهدى، ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا
المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم، ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم ولقد رأيتنا وما
يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق أو مريض، ولقد كان الرجل يؤتى به يهادى بين
الرجلين حتى يقام في الصف
“Barangsiapa yang ingin ketika berjumpa dengan Allah
esok dalam keadaan sebagai seorang Muslim, maka hendaknya dia menjaga shalat 5
waktu di tempat dikumandangkan adzan (yaitu di masjid). Karena Allah telah
mensyariatkan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk. Dan shalat 5 waktu di
masjid adalah salah satu di antara jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian
shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak ikut shalat berjamaah
ini, ia shalat di rumahnya, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi
kalian. Dan jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian
akan tersesat. Dan sungguh aku melihat dahulu kami para sahabat, tidak ada yang
meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali orang munafik yang jelas
kemunafikannya. Dan sungguh dahulu ada sahabat yang dibopong ke masjid dan
ditopang di antara dua lelaki agar bisa berdiri untuk shalat di shaf” (HR.
Muslim no.654).
Baca Juga: Adab-Adab Makan Seorang Muslim (Bag. 2)
Udzur Tidak Shalat
Berjamaah di Masjid
Maka jelaslah dari dalil-dalil di atas bahwa shalat
berjama’ah wajib dilaksanakan di masjid, kecuali jika ada udzur. Ibnul Qayyim
menjelaskan:
ومن
تأمل السنة حق التأمل تبين له أن فعلها في المساجد فرض على الأعيان ، إلا لعارض
يجوز معه ترك الجمعة والجماعة ، فترك حضور المسجد لغير عذر : كترك أصل الجماعة
لغير عذر، وبهذا تتفق جميع الأحاديث والآثار….
“Barangsiapa yang mentadabburi As Sunnah dengan
sebenar-benarnya, akan jelas baginya bahwa melaksanakan shalat jama’ah di
masjid itu hukumnya fardhu ‘ain. Kecuali ada penghalang yang menghalangi untuk
membolehkan untuk meninggalkan shalat Jum’at dan shalat Jama’ah. Maka
meninggalkan hadir shalat di masjid tanpa udzur seperti meninggalkan shalat
jama’ah tanpa udzur. Dengan pendapat inilah akan bersesuaian semua hadits dan
atsar” (Kitabus Shalah, 416).
Udzur yang membolehkan orang untuk tidak menghadiri
shalat berjama’ah diantaranya: sakit yang menyulitkan untuk hadir di masjid,
hujan, cuaca sangat dingin, dan semua kondisi yang menimbulkan masyaqqah pada
seseorang untuk hadir di masjid. dibolehkan bagi lelaki untuk tidak menghadiri
shalat jama’ah di masjid lalu ia shalat di rumahnya jika ada masyaqqah
(kesulitan) seperti sakit, hujan, adanya angin, udara sangat dingin atau
semacamnya.
Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma:
كَانَ
يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ : ” أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ”
فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ
“Dahulu Nabi memerintahkan muadzin beradzan lalu di
akhirnya ditambahkan lafadz /shalluu fii rihaalikum/ (shalatlah di rumah-rumah
kalian) ketika malam sangat dingin atau hujan dalam safar” (HR. Bukhari no.
616, Muslim no. 699).
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata:
خرجنا
مع رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في سفرٍ . فمُطِرْنا . فقال ” ليُصلِّ
من شاء منكم في رَحْلِه “
“Kami pernah safar bersama Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu turunlah hujan. Beliau besabda: ‘bagi kalian
yang ingin shalat di rumah dipersilakan‘” (HR. Muslim no. 698).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:
صلوا
في بيوتكم إذا كان فيه مشقة على الناس من جهة المطر أو الزلق في الأسواق
“Shalatlah di rumah-rumah kalian, maksudnya jika ada
masyaqqah (kesulitan) yang dirasakan orang-orang, semisal karena hujan, atau
jalan yang licin.” (https://www.binbaz.org.sa/noor/5631)
Dan kondisi sakit terkadang menimbulkan
masyaqqah untuk pergi ke masjid. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun ketika
beliau sakit parah, beliau tidak shalat di masjid, padahal beliau yang biasa
mengimami orang-orang. Beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menggantikan posisi
beliau sebagai imam. ‘Aisyah radhiallahu’anha berkata:
أن
رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال في مرَضِه : ( مُروا أبا بكرٍ يصلِّي
بالناسِ )
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sakit
beliau bersabda: perintahkan Abu Bakar untuk shalat (mengimami) orang-orang”
(HR. Bukhari no. 7303).
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan:
لقد
رَأيتُنا وما يتخلَّفُ عن الصَّلاةِ إلا منافقٌ قد عُلِمَ نفاقُهُ أو مريضٌ
“Aku melihat bahwa kami (para sahabat) memandang orang
yang tidak shalat berjama’ah sebagai orang munafik, atau sedang sakit” (HR.
Muslim no. 654).
Baca Juga: Fitroh-Fitroh Manusia Dalam Kesucian Jasmani
Jika Kesulitan
Mendatangi Masjid
Demikian juga boleh bagi para pekerja, para pelajar
dan semisalnya untuk mendirikan shalat di tempat mereka beraktifitas jika sulit
untuk datang ke masjid. Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan: “Namun jika ada
kebutuhan untuk mendirikan shalat jama’ah di luar masjid, seperti para karyawan
yang akan shalat di tempat mereka bekerja karena jika mereka shalat di tempat
kerja mereka itu akan lebih menunjang pekerjaan mereka, dan akan lebih mudah
untuk mewajibkan para karyawan untuk mendirikan shalat berjama’ah, dan selama
tidak membuat masjid-masjid yang ada di sekitarnya menjadi terlantar, semoga
dalam keadaan seperti tidak mengapa mereka (para karyawan) shalat di tempat
kerjanya” (Al Mulakhas Al Fiqhi, 104).
Adapun hadits:
أُعْطِيتُ
خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ
وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي
أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ
لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى
قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberi lima perkara oleh Allah, yang tidak
diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. [1] Aku ditolong (oleh Allah)
berupa rasa takut pada hati musuh (sebelum mereka datang) sejauh perjalanan
satu bulan, [2] bumi dijadikan untukku sebagai tempat shalat dan alat bersuci.
Maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, hendaklah dia shalat
[3] ghanimah dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun
sebelumku, [4] Aku diberi syafa’at, [5] dan Nabi-Nabi terdahulu diutus khusus
kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia” (HR. Bukhari
no.335).
Disebutkan dalam hadits ini bahwa setiap bagian dari
bumi dapat digunakan untuk shalat. Maka ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama
yang mengatakan tidak wajibnya shalat berjama’ah di masjid. Namun yang tepat,
maksud hadits ini adalah bagi orang yang tidak wajib shalat berjama’ah di
masjid atau ada udzur yang membolehkan ia tidak shalat berjama’ah di masjid.
Seperti orang yang sedang safar, orang yang sakit atau jauh dari masjid. Syaikh
Sa’id bin Wahf Al Qahthani ketika membawakan hadits di atas beliau memberikan
penjelasan: “Namun jika tidak mudah untuk pergi ke masjid, atau masjid terlalu
jauh sehingga tidak terdengar adzan, atau shalat jama’ah dilakukan ketika
safar, maka shalat jama’ah tetap wajib bagi mereka yang mampu melakukannya dan
boleh bagi mereka untuk shalat di tempat mana saja yang suci” (Al Masajid,
57). Dengan demikian semua dalil saling sejalan dan cocok.
Maka kesimpulannya, shalat berjama’ah wajib
dilaksanakan di masjid kecuali jika ada udzur untuk tidak melasanakannya di
masjid. Semoga Allah memberi taufik.
Baca Juga:
- Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris
- Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang
Penulis: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id


0 Komentar